Pesawahan - Sosialisasi “Bekal Tubuhku untuk Masa Depan Anakku” kepada kelompok belajar mengaji remaja putri di Desa Pesawahan guna penurunan angka kejadian stunt

Sosialisasi “Bekal Tubuhku untuk Masa Depan Anakku” kepada kelompok belajar mengaji remaja putri di Desa Pesawahan guna penurunan angka kejadian stunt

Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro melakukan sosialisasi mengenai pencegahan anemia dengan mengonsumsi tablet tambah darah untuk mengurangi resiko terjadinya stunting pada generasi penerus bangsa. Kegiatan ini dilakukan di rumah belajar yang terletak di Dusun Grontol, Desa Pesawahan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal. Rumah belajar ini dimiliki oleh salah seorang Kyai, yang telah menyediakan tempat untuk belajar mengaji setiap harinya. Kegiatan ini memiliki tujuan jangka panjang dalam upaya pencegahan stunting di masa depan sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu pada poin 1 (Tanpa kemiskinan) khususnya kemiskinan dalam bidang ilmu dan kesehatan, SDG 3 (Kehidupan sehat dan sejahtera) khususnya bagi remaja yang sedang mengalami masa akil balik, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) khususnya pada anak remaja putri.

Sosialisasi dengan tema besar Stunting ini dibawakan dengan judul Bekal Tubuhku untuk Masa Depan Anakku. Berbeda dengan sosialisasi pada umumnya, kegiatan ini diawali dengan memaparkan 8 ciri umum makhluk hidup, yaitu B (Bergerak), E (Ekskresi), R (Respirasi), T (Tumbuh & Berkembang), I (Iritabilitas/peka terhadap rangsangan), N (Nutrisi), A (Adaptasi), dan R (Reproduksi). Setelah itu, materi pembahasan dipersempit, dengan berfokus pada sistem reproduksi khususnya mengenai menstruasi dan kesehatan organ reproduksi. Penyampaian informasi mengenai 2-5 tahun setelah menarche merupakan periode tubuh berkembang secara cepat dan fase yang tepat untuk menabung mikronutrien. Melalui informasi inilah, remaja putri diajak untuk menyadari betapa pentingnya memenuhi mikronutrien, seperti kalsium dan zat besi, selama periode growth spurt II.

Informasi mengenai kesehatan sistem reproduksi, khususnya pada wanita, menjadi sebuah hal yang sangat penting untuk disampaikan sejak dini. Hal ini dikarenakan di Desa Pesawahan, anak-anak kelas 4 sudah mengalami menstruasi pertama (menarche). Dengan demikian, rentang waktu untuk menabung mikronutrien untuk kebutuhan di usia produktif hingga lanjut usia juga akan lebih pendek atau selesai lebih cepat dibandingkan dengan usia normalnya. Sehingga, mikronutrien yang dapat ditabung oleh tubuh hanya terbatas jumlahnya. Akibatnya, di masa depan, setelah mereka melewati fase mengandung dan menyusui, resiko tubuh mengalami kerusakan akan lebih cepat dikarenakan cadangan mikronutrien pada tubuh sudah menipis. Kerusakan yang dapat terjadi meliputi radang sendi, pengeroposan tulang dan bahkan rawan terjadi patah tulang dikarenakan kurangnya tabungan kalsium ketika masih muda. Kerusakan tersebut mengakibatkan tubuh sering mengalami kelemahan, letih, lesu, sering pusing, dan bahkan pegal di hampir seluruh tubuh. Selain itu, resiko terjadinya anemia dikarenakan kekurangan zat besi juga dapat berdampak pada kejadian stunting pada anak yang akan dikandung nantinya.

“Saya mengandung anak pertama diusia 18 tahun. Dari dulu memang sudah ada riwayat radang sendi, namun paling parah itu ketika lahirnya anak kedua, bahkan saya tidak bisa membuka kaki saya karena nyeri. Sejak saat itu saya susah untuk duduk di lantai, pergerakan di area panggul dan juga di jari-jari tangan saya juga terbatas. Saya juga sering pusing dan mudah lelah” Ucap salah seorang ibu yang tinggal di Desa Pesawahan, tepatnya Dusun Grontol.

“Stunting itu memang kompleks proses terjadinya dan banyak faktor yang memengaruhi. Jadi kalo memang tujuannya untuk mencegah stunting, ya ada baiknya dari sejak awal, yaitu remaja remaja putri diajak dan dipastikan untuk mengonsumsi tablet tambah darah, khususnya ketika menstruasi untuk mencegah anemia. Walaupun memang terlihatnya masih sangat jauh ya, tapi lebih baik mencegah daripada mengobati” Seru salah seorang bidan desa di Desa Pesawahan.

 

“Remaja putri di sini kesadarannya akan kesehatan juga masih kurang, mungkin juga karena mereka tidak tahu akan hal tersebut. Bisa juga karena efek tablet tambah darahnya yang mengakibatkan mual. Jadi baiknya diberikanlah pemahaman yang benar supaya mereka tahu, sadar, dan mau untuk konsumsi tablet tambah darah. Harapannya yah ada kesadaran dan juga ada niat dari hati masing masing anak buat konsumsi tablet tambah darah, bukan sebatas hanya karena disuruh.” ungkap salah seorang ibu Kader Pembangunan Manusia yang bertugas di Desa Pesawahan.

 

“Aku sudah konsumsi tablet tambah darahnya kak, ga mual juga sih karena minumnya sebelum tidur sesuai dengan yang kakak jelaskan kemarin. Aku makan lagi nanti malam ya kak, soalnya aku lagi menstruasi kak.” ucap salah seorang remaja putri di dusun Grontol, Desa Pesawahan, setelah 7 hari dilakukannya sosialisasi ini. 


Dipost : 19 Agustus 2026 | Dilihat : 20

Share :